Omzet bisnis di Yogyakarta bisa ditingkatkan lewat tiga hal yang kini bergantung pada kanal digital: usaha mudah ditemukan, mudah dibayar, dan cepat merespons pelanggan. Kecerdasan buatan (AI) membantu di bagian kerja yang berulang, seperti menulis deskripsi produk, menerjemahkan, dan membalas pertanyaan.

Pasarnya sudah tersedia. Badan Pusat Statistik (BPS) DIY mencatat 26,75 juta perjalanan wisatawan nusantara ke DIY pada Januari sampai Juli 2026, ditambah mahasiswa dari 126 perguruan tinggi di DIY. Pasar yang sama menopang berbagai peluang usaha di Jogja, dari kuliner sampai penginapan.

Pemanfaatan AI oleh pelaku usaha kecil masih rendah. Menteri UMKM Maman Abdurrahman menyebut lebih dari 90 persen pelaku UMKM belum memanfaatkan AI secara optimal dalam proses bisnisnya, dalam forum di Jakarta, Juli 2026.

1. Lengkapi Profil Bisnis di Google Maps

Profil bisnis di Google Maps menjadi pintu pertama bagi wisatawan yang mencari tempat makan, penginapan, atau oleh-oleh di sekitar mereka. Pencarian seperti “gudeg dekat Malioboro” atau “rental motor Sleman” biasanya menampilkan peta lebih dulu sebelum situs web.

Profil yang lengkap memuat alamat, jam buka, nomor telepon, foto terbaru, dan daftar produk atau menu. Membalas ulasan pelanggan, termasuk ulasan negatif, menunjukkan usaha masih aktif dan memperhatikan pembeli.

2. Punya Website Sendiri

Website memberi tempat tetap untuk katalog, harga, dan cara memesan yang tidak bergantung pada perubahan aturan media sosial atau marketplace. Halaman yang tersusun baik juga bisa muncul di hasil pencarian Google untuk kata kunci yang dicari calon pembeli.

Untuk usaha jasa seperti rental kendaraan, paket wisata, dan penginapan, website memudahkan calon pelanggan membandingkan pilihan sebelum menghubungi lewat WhatsApp. Usaha produk bisa memakai website sebagai katalog yang mengarahkan pembeli ke toko daring atau pemesanan langsung.

Pelaku usaha yang belum punya tim teknis bisa memakai jasa pembuatan website. Salah satu yang bisa dipertimbangkan adalah jasa pembuatan website Jogja dari Roofel di Sleman. Portofolionya mencakup klien hotel bintang 5 seperti Amaranta Prambanan sampai usaha lokal seperti agen paket wisata dan toko online di Kota Yogyakarta. Sebelum memilih penyedia, bandingkan portofolio, isi paket, dan layanan pendampingan setelah website jadi.

3. Terima Pembayaran QRIS

QRIS memudahkan pembeli yang tidak membawa uang tunai, terutama wisatawan dan mahasiswa. Bank Indonesia mencatat 44,86 juta merchant QRIS hingga Juni 2026, dan 96,68 persen di antaranya adalah UMKM.

Biaya transaksi QRIS juga makin ringan. Sejak 1 Oktober 2026, Bank Indonesia menetapkan biaya merchant (MDR) 0 persen untuk transaksi usaha mikro sampai Rp500.000, serta untuk transaksi usaha kecil, menengah, dan besar sampai Rp100.000.

4. Jualan di Marketplace dan Media Sosial

Marketplace dan media sosial membuka pembeli dari luar DIY tanpa harus menunggu mereka datang ke Jogja. Produk seperti bakpia, gudeg kaleng, batik, perak Kotagede, dan kerajinan kulit cocok dipasarkan dengan cara ini.

Foto produk yang jelas, deskripsi ukuran dan bahan, serta informasi daya tahan makanan mengurangi pertanyaan berulang dan risiko komplain. Kementerian UMKM sedang mengembangkan platform Sapa UMKM, dan pelaku usaha yang terdaftar disebut akan mendapat potongan 50 persen biaya layanan marketplace.

5. Pakai AI untuk Pekerjaan Berulang

AI paling berguna untuk pekerjaan yang memakan waktu tetapi polanya berulang. Contohnya menulis deskripsi produk, membuat variasi caption promosi, merangkum ulasan pelanggan, atau menyusun jawaban untuk pertanyaan yang sering muncul.

AI juga membantu menerjemahkan menu, katalog, dan balasan chat ke bahasa asing. BPS DIY mencatat 29.394 kunjungan wisatawan mancanegara pada Januari sampai April 2026, naik 27,11 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Hasil dari AI tetap perlu dicek ulang sebelum dipakai, terutama harga, klaim produk, dan informasi halal. Kesalahan kecil di deskripsi bisa berujung pada komplain pembeli.

6. Layani Pesanan Lewat WhatsApp Business

WhatsApp masih menjadi kanal pemesanan utama bagi banyak usaha di Jogja, dari katering sampai rental mobil. Aplikasi WhatsApp Business menyediakan katalog produk, pesan sapaan otomatis, balasan cepat, dan label untuk memilah pelanggan.

Kecepatan membalas sering menentukan apakah calon pembeli jadi memesan atau pindah ke usaha lain. Balasan cepat yang sudah disiapkan untuk pertanyaan harga, lokasi, dan jam buka memangkas waktu tunggu pelanggan.

7. Manfaatkan Program Pemda DIY

Dinas Koperasi dan UKM DIY mengelola SiBakul Jogja, sistem data UMKM yang menjadi syarat sejumlah program pembinaan dan pameran. Salah satunya SiBakul Creative Local Market (SiCloMa) yang digelar di Plaza Ambarrukmo pada Agustus 2026.

Saat membuka SiCloMa 2026, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menekankan pemasaran digital, kualitas produk, kemasan, perizinan, dan kepercayaan pelanggan sebagai bekal UMKM untuk berkembang. Pameran seperti ini juga menjadi tempat menguji produk sebelum dipasarkan lebih luas.

8. Baca Data Penjualan Secara Rutin

Data penjualan menunjukkan produk mana yang laku, jam berapa toko ramai, dan dari mana pelanggan datang. Catatan sederhana di spreadsheet atau aplikasi kasir sudah cukup untuk melihat pola mingguan dan musiman, seperti lonjakan saat libur sekolah dan Natal-Tahun Baru.

Google Maps dan marketplace juga menyediakan laporan jumlah pencarian, kunjungan profil, panggilan, dan permintaan rute. Angka itu membantu menentukan kanal mana yang paling banyak mendatangkan pembeli, sehingga waktu dan biaya promosi bisa difokuskan ke sana.