Peluang usaha di Jogja paling banyak bertumpu pada dua pasar yang selalu ada, yaitu wisatawan dan mahasiswa. Badan Pusat Statistik (BPS) DIY mencatat perjalanan wisatawan nusantara ke DIY sepanjang Januari sampai Juli 2026 mencapai 26,75 juta, tumbuh 9,15 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Daerah Istimewa Yogyakarta juga menampung 126 perguruan tinggi negeri dan swasta. Untuk modal, Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) DIY mencatat penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) di DIY hingga 30 April 2026 mencapai Rp1.783,39 miliar untuk 31.456 debitur.

1. Rental Mobil dan Motor

Rental kendaraan bergerak mengikuti arus wisatawan. Dinas Pariwisata (Dispar) DIY mencatat 2.270.228 kunjungan wisatawan selama libur Natal dan Tahun Baru 2025/2026, naik sekitar 50 persen dibandingkan periode yang sama setahun sebelumnya.

Rombongan keluarga umumnya butuh kendaraan untuk menjangkau Candi Prambanan, pantai-pantai Gunungkidul, hingga Parangtritis di Bantul. Wisatawan mancanegara menjadi pasar tambahan. BPS DIY mencatat 29.394 kunjungan wisatawan mancanegara ke DIY pada Januari sampai April 2026, naik 27,11 persen.

Rental kendaraan bisa dimulai dari beberapa unit, lalu ditambah seiring pesanan.

2. Paket Wisata dan Jasa Pemandu

Dispar DIY mencatat 145 desa wisata, mulai dari yang sudah maju sampai yang baru tumbuh. Desa-desa itu membutuhkan penyelenggara paket yang bisa mengemas kegiatan, transportasi, dan pemandu dalam satu perjalanan.

Peneliti Pusat Studi Pariwisata Universitas Gadjah Mada (UGM) Destha Titi Raharjana menilai kawasan Gunungkidul dan paket berkegiatan di desa wisata berpeluang menerima banyak kunjungan. Kenaikan wisatawan mancanegara juga membuka pasar bagi pemandu berbahasa asing.

3. Kuliner Khas dan Angkringan

Kuliner tradisional tetap menjadi andalan Jogja. Gudeg, angkringan, dan jajanan pasar adalah menu yang paling mudah dikenali pendatang. Pemda DIY bahkan menggandeng sekitar 70 pelaku UMKM angkringan pada Silaturahmi Idulfitri di Kompleks Kepatihan, Maret 2026.

Usaha kuliner bisa dimulai dari gerobak atau lapak kecil. Persaingannya ketat, sehingga lokasi dan menu yang berbeda menentukan apakah usaha bertahan.

4. Oleh-oleh dan Makanan Kemasan

Wisatawan membawa pulang bakpia, geplak, dan gudeg kaleng. Teras Malioboro 1 menampung tidak kurang dari 800 kios UMKM kuliner, kerajinan, dan fesyen.

Produk makanan dan minuman usaha mikro dan kecil wajib bersertifikat halal mulai Oktober 2026. Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) membuka kuota sertifikat halal gratis lewat program Sehati, dengan pengajuan melalui sistem SiHalal.

5. Kerajinan dan Batik

Perak Kotagede, kerajinan kulit Manding di Bantul, gerabah Kasongan, dan tenun Desa Wisata Gamplong di Sleman menjadi produk yang dicari pembeli dari luar daerah. Pasarnya bukan hanya wisatawan, tetapi juga pameran dagang.

Inacraft Festival 2026 digelar di Jogja Expo Center (JEC), Bantul, pada Juli 2026, untuk pertama kalinya di luar Jakarta. Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menyebut pameran itu sebagai jembatan kerajinan Yogyakarta menuju pasar global.

6. Kos dan Hunian Mahasiswa

Kos mahasiswa punya penyewa tetap selama kampus beroperasi. Dari 126 perguruan tinggi di DIY, 51 berada di Kota Yogyakarta, 41 di Sleman, dan 31 di Bantul, sehingga kawasan sekitar kampus di tiga wilayah itu paling dicari.

Pasar ini tidak otomatis tumbuh. Penasihat Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) Wilayah V DIY Edy Suandi Hamid menilai Jakarta, Bandung, dan Surabaya makin menarik bagi calon mahasiswa.

7. Homestay dan Penginapan Skala Kecil

Tingkat hunian kamar di DIY selama libur Natal dan Tahun Baru berkisar 80 persen, menurut Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY. Di luar musim libur, permintaan turun. BPS DIY mencatat tamu hotel pada Juli 2026 sebanyak 829.327 orang, turun 5,70 persen dibandingkan Juni.

Homestay yang dipasarkan lewat agen perjalanan daring wajib memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB). Kementerian Pariwisata menertibkan akomodasi tak berizin di platform tersebut mulai Agustus 2026.

8. Toko Kebutuhan Harian

Toko kelontong dan ritel eceran melayani permukiman, kawasan kos, dan kampung wisata. Kepala OJK DIY Eko Yunianto menyebut rumah tangga dan perdagangan masih menjadi sektor dominan dalam struktur pembiayaan di DIY.

Kanwil DJPb DIY mencatat KUR untuk perdagangan besar dan eceran di DIY hingga 31 Maret 2026 mencapai Rp455,88 miliar bagi 7.822 debitur.

9. Lapak di Acara dan Pameran

Jogja punya kalender acara yang padat, dan setiap acara membutuhkan lapak makanan, minuman, dan suvenir. Sepanjang 2026, Bantul Creative Expo, SiBakul Creative Local Market, hingga lomba lari Trans Jogja Run membuka tenant bagi UMKM.

Lapak acara cocok untuk menguji pasar tanpa menyewa tempat permanen. Sejumlah penyelenggara mensyaratkan UMKM terdaftar di SiBakul Jogja, sistem data UMKM milik Dinas Koperasi dan UKM DIY.

10. Jualan Daring Produk Lokal

Produk kerajinan, makanan kemasan, dan paket wisata dari Jogja bisa dipasarkan ke luar daerah lewat lokapasar dan media sosial, tanpa menunggu pembeli datang. BPS DIY menjadikan usaha daring salah satu fokus baru Sensus Ekonomi 2026, seiring tumbuhnya ekonomi digital di DIY.

Langkah memperluas pasar lewat Google Maps, website, QRIS, dan AI dirangkum dalam artikel cara meningkatkan omzet bisnis di Yogyakarta.